Sab. Jan 18th, 2020

Sejarah

Dikutip dari tulisan wartawan legendaris Salatiga, Bambang Setyawan
terbit di kompasiana 11 April 2017

Kepolisian Resor (Polres) Kota Salatiga yang membawahi empat kecamatan memang unik. Selain pernah memiliki wilayah hukum hingga Kabupaten Semarang, markasnya juga menempati bangunan kuno yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Berikut kilas balik perjalanan panjang korps Bhayangkara tersebut.

Pendopo Polres Salatiga (foto: dok pri)

Pendopo Polres Salatiga (foto: dok pri)

Berdasarkan data yang ada, jajaran kepolisian ini mulai dirintis di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, dan dipimpin oleh warga negara Jepang bernama Gasira berpangkat Inspektur Satu (sekarang Iptu setara Letnan Satu di TNI). Artinya, keberadaannya terjadi pada zaman penjajahan Jepang (1942).

Dengan nama Detasemen Polisi Salatiga, memiliki tiga wilayah yang terdiri atas Salatiga Luar Kota, Ambarawa, dan Ungaran. Kendati setingkat Polsek, masing-masing hanya dipimpin seorang bintara (Brigadir). Maklum, saat itu yang namanya perwira sangat langka. Hingga Jepang terusir dari Tanah Air, Kepala Polisi dipegang Soen A Kim (warga Tionghoa) selanjutnya jabatan yang sama jatuh pada De Groen (warga Belanda).

Bangunan utama Polres Salatiga sekarang (foto: dok pri)

Bangunan utama Polres Salatiga sekarang (foto: dok pri)

Pascakemerdekaan, Inspektur Polisi Kelas I Suparlan sempat memegang kendali hingga akhirnya diganti oleh Inspektur Kelas I Suryo Prastowo yang menjabat sampai tahun 1947. Bergonta-ganti perwira pertama, akhirnya tahun 1963 seorang perwira menengah, yakni Letnan Kolonel (Letkol) Soeharsono ditunjuk sebagai komandan membawahi Salatiga serta Kabupaten Semarang.

Perihal nama kesatuan yang sebelumnya bernama Detasemen Polisi Salatiga diganti Komando Resort (Kores) 932 Salatiga sendiri masih simpang siur. Ada yang menyebut pergantian dilakukan usai Indonesia merdeka, namun sumber lain mengatakan perubahan terjadi ketika Letkol Soeharsono menjadi orang pertama di instansi ini. Entah mana yang benar, pastinya markas komandonya waktu itu memanfaatkan bangunan eks-Benteng Hock di Jalan Diponegoro.

Pintu masuk ke gedung utama (foto: dok pri)

Pintu masuk ke gedung utama (foto: dok pri)

Hingga akhirnya personel Kores 932 Salatiga boyongan ke Jalan Adi Sucipto (dulunya bernama Jalan Kepatihan) nomor 1, sebutan Kores 932 Salatiga tetap disandang. Pada zaman dulu, nama Kores (tidak pakai 932) sangat menakutkan. Sebandel apa pun anak muda, kalau dibawa ke Makores bakal tertunduk lesu tanpa mampu mendongak. Maklum, polisi waktu itu irit bicara namun banyak menggampar.

Para perwira menengah yang memimpin Kores 932 Salatiga datang silih berganti sampai akhirnya di tahun 1984 ketika operasi pemberantasan kejahatan yang biasa disebut penembakan misterius (Petrus) berakhir, nama kesatuan diganti Kepolisian Resort (Polres) Salatiga dengan wilayah hukum tetap, yakni Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.

Pendopo yang sempat direnovasi AKBP Idrus Wahid (foto: dok pri)

Pendopo yang sempat direnovasi AKBP Idrus Wahid (foto: dok pri)

Sejarah Gedung

Wilayah hukum Polres Salatiga yang mencakup Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang bertahan cukup lama hingga Almarhum Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Drs Wanto Sumardi menjabat sebagai Kapolres di tahun 2002 mulailah dirintis pemecahan Kabupaten Semarang memiliki Polres tersendiri. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2004 Polres Semarang secara resmi terbentuk dan bermarkas di Ungaran.

Dengan berdirinya Polres Semarang, tak pelak, wilayah hukum Polres Salatiga jadi menciut tingga empat Polsek (Tingkir, Argomulyo, Sidomukti dan Sidorejo). Kendati begitu, ada sisi positifnya, yakni tercapainya rasio perbandingan dengan jumlah penduduk 1:400 sesuai standar PBB telah terpenuhi sebab total penduduk Kota Salatiga sekitar 190 ribu, sedangkan personel kepolisian mencapai 500 orang. Artinya 1 berbanding 380, sebelumnya perbandingannya 1 : 1900 (saat membawahi Kabupaten Semarang).

Gedung untuk kantor Sat Reskrim (foto: dok pri)

Gedung untuk kantor Sat Reskrim (foto: dok pri)

Tak bijak mengupas Polres Salatiga tanpa menyinggung gedung yang dipakai untuk markasnya. Di mana para abdi Bhayangkara setelah menempati eks-Benteng Hock cukup lama, akhirnya pascakemerdekaan boyongan ke Mapolres sekarang yang terletak di Jalan Adi Sucipto, Kota Salatiga hingga sekarang. Di lahan yang luas tersebut, selain kantor, bagian belakang dan sebelah selatannya dimanfaatkan untuk prajurit sebagai tempat tinggal karena belum memiliki rumah.

Bangunan-bangunan yang ditempati Polres Salatiga, sebenarnya merupakan gedung tua peninggalan pertengahan abad ke-18. Di mana, saat Salatiga berstatus sebagai kabupaten. Bupati yang menjabat kala itu adalah Raden Tumenggung Prawirokoesoemo yang berjuluk Bupati Sedo Amok. Pemerintahan kolonial Belanda yang menganggap perlu kerja sama dengan kepala daerah, akhirnya sekitar tahun 1860-an membangunkan kantor di lokasi ini.

Daun jendela khas Belanda setinggi 2 meter (foto: dok pri)

Daun jendela khas Belanda setinggi 2 meter (foto: dok pri)

Bangunan kolaborasi arsitektur Jawa dan Belanda tersebut terdiri atas gedung induk yang memanjang ke belakang serta mempunyai sayap di sebelah kanan. Berpintu lebar dengan tinggi 3 meter, begitu pun jendelanya khas Belanda, terlihat lebar. Sayap ini sekarang digunakan oleh Sat Intel, Komlek serta Sat Reskrim. Sebelah kiri, terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk kantor Koperasi, Saka Bhayangkara juga Propam. Sementara di depannya terdapat pendopo yang mampu menampung 200-an orang. Dulu pendopo berfungsi sebagai tempat pertemuan antara bupati dengan tamu-tamunya.

Di tahun 1970-an, gedung utama berfungsi sebagai kantor Kapolres/ Waka Polres dan stafnya. Bentuk bangunan yang berada di atas permukaan tanah sekitar 1 meteran, membuatnya terlihat gagah. Di pintu masuk, difungsikan sebagai ruang penjagaan. Di sini semua perkara pidana dilaporkan. Hingga memasuki tahun 1980-an, ruang penjagaan dipindah ke pintu gerbang utama. Kendati begitu, seluruh areal Mapolres hanya dipagar tembok pendek setinggi 1 meter. Bahkan, pintu timur terbuka lebar sehingga orang bebas lalu lalang (sekarang sudah terpasang pintu gerbang besi).

Sebelum tahun 90 an, Pendopo yang berbahan kayu jati dengan tiang-tiang kokohnya, berdinding tembok setinggi sekitar 1,5 meter. Sedangkan atasnya merupakan bambu yang diatur sejajar. Hingga Kapolres Salatiga dijabat oleh AKBP Idrus Wahid di tahun 1990-1991, ia merenovasinya. Entah mendapatkan dana dari mana, bambu-bambu yang dijadikan dinding, diganti jendela-jendela kaca. Begitu pun lantai dibongkar selanjutnya digunakan keramik.

Sedangkan pada bangunan induk yang menjadi ruang Kapolres, Waka Polres dan stafnya, lantai abu-abu sudah diganti keramik putih. Untuk kusen pintu maupun jendela tetap dibiarkan utuh, genting telah diganti semua. Demikian pula plafonnya, masih seperti ratusan tahun yang lalu. Di bagian depan ditambahi bangunan, saat itu yang sebelah kanan pernah dijadikan ruang kerja Kapolres serta sebelah kiri ruang Sespri. Setelah Kapolres dijabat AKBP Antonius Sitanggang (tahun 1999), ruang kerjanya dipindahkan ke bagian tengah.